NEWS UPDATE :  

Berita

IDUL ADHA DALAM BINGKAI PENDIDIKAN

Salah satu hari raya besar islam telah berlalu yaitu Idul Adha. Tapi masih ada banyak hal yang kita pelajari dari peristiwa tersebut. Apabila catatan ini telah banyak pembaca tahu dari khotib Jum’at atau para Da’i dalam pidatonya saat Idul Adha ataupun melalui saluran elektronik, TV, radio atau yang lainya. Maka anggap saja ini sebagai sebuah pelajaran “De Javu” dan ta’kid (penguat) dalam benak dan jiwa untuk selalu menunutut ilmu.

Dalam kontruksi pendidikan sering kali kita temukan sebuah problematika pelik tentang bagaimana metode pembelajaran yang benar dan tepat, guna “menggodok” para pelajar untuk menjadi orang yang benar-benar paham dan pandai dalam proses pembelajaran itu sendiri. Sering kali lontaran keritik dan hujatan pedas disampaikan oleh para pengamat pendidikan, para kaum kritisi, atau juga dari objek yang memperoleh pendidikan itu sendiri. Mulai dari pelajar hingga mahasiswa. Namun terkadang kritikan itu tidak disertai dengan solusi yang bersifat positif dan membangun. Padahal etika dalam memberi kritikan seyogyanya disertai solusi yang sesuai dan tentu membantu untuk memecahkan masalah bukan malah menjatuhkan. Mungkin dari hikmah yang tersirat dalam peristiwa Idul Adha ini bisa memberikan secercah solusi untuk pendidikan yang lebih baik.

Idul Adha adalah hari penting dalam Islam yang bermula dari peristiwa penyembilihan oleh Nabi Ibrahim pada anaknya Ismail. Dalam sejarah mencatat ketika itu Nabi Ibrahim sangat mendambakan kehadiran seorang anak dalam keluarganya bersama sang istri tercinta Siti Hajar. Seteleh puluhan tahun menanti buah hati akhirnya lahirlah Ismail. Ismail tumbuh menjadi anak yang cerdas dan lincah. Hingga tahun berganti tahun, bulan berganti bulan, minggu berganti minggu Ismail mencapai usia remajanya. Ditaksir saat itu umur Ismail menginjak usia 12 tahun.

Dalam suatu malam saat Ibrahim terlelap dalam tidurnya, beliau bermimimpi diperintahkan untuk menyembelih anaknya. Lantas kejadian ini diabadikan dalam Al-Qur’an  yang Artinya : Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."{As-Shaaffaat : 102}.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan, mimpi seorang utusan Alloh adalah wahyu baginya. Saat bermimpi untuk menyembelih putranya sendiri Nabi Ibrahim dilanda dilema luar biasa. Antara mematuhi perintah Alloh atau menyembelih momongan yang sekian lama telah dinanti-nantinya. Termenung lah Ibrahim dalam lamunanya yang membuatnya semakin terombang-ambing dan melayang-layang tak tentu. Akhirnya diceritakanlah peristiwa ini pada Ismail,"Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!". Dalam potongan ayat ini tertulis jelas setelah menceritakan perihal penyembelihan itu, ditanya Ismail oleh bapaknya “Apa pendapatmu ???”. Bayangkan Ismail yang masih belia, masih berumur 12 tahun, seumuran anak yang baru lulus SD (Sekolah Dasar) ditanya tentang hakikat kehidupan yang luar biasa dalamnya. Yang sangat jauh dari angan-angan anak sebayanya.

Ada sebuah pelajaran terselubung atau hikmah dari sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh Nabi Ibrahim pada anaknya. Mengapa seorang Ibrahim, seorang Nabi besar, utusan suci dari Alloh harus meminta pendapat pada anaknya yang masih belia tentang sebuah kejadian yang dirasa belum saatnya Ismail paham dan mengerti tentang hakikat kehidupan yang memiliki nilai filosofis tinggi itu. Bukankah lebih layak bagi Nabi Ibrahim untuk menentukannya sendiri tanpa harus meminta pendapat pada Ismail.

Seorang ayah atau pendidik atau guru yang baik tidak boleh menggangap anaknya selalu kurang. Selalu memberikan doktrin-doktrin yang harus dilakukan anak itu tanpa memberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya atau mengangap setiap anaknya tidak memiliki kemampuan untuk berpikir ala dirinya. Jadi tidak dibenarkan seorang bapak berkata pada anaknya “ahh, koen iku jek cilik ngerti opo seh, gak usah melok-melok urusanne wong gede” (ahh, kamu itu masih kecil, ngerti apa sih, tidak usah ikut-ikut urusan orang dewasa). Jika ucapan yang demikian ini terus dibudidayakan jangan salahkan anak ketika mereka tidak bisa menjadi manusia yang kreatif dan memiliki pemikiran luas. Sehingga menjadikan anak-anak menjadi jiwa yang cupet, kolot, karena dipotong kreatifitas berpikirnya dengan sengaja yang seharusnya ditumbuh kembangkan.

Tentunya sebelum kejadian tersebut, Nabi Ibrohim terlebih dahulu menanmkan Keimanan dan Ketaqwaan yang tinggi kepada Nabi Ismail As. Sehingga ia dengan keyakinan dan keimanannya bahu membahu saling mensupprot dalam menjalankan perintah Allah.

Inilah tugas pendidik yang sebenarnya, yaitu bagaiamana pendidik bisa mengajarkan Iman, Taqwa dan Ahlak mulia sebelum di beri kebebasan untuk berbuat dan menentukan pilihan sehingga anak (peserta didik) mampu menjadi manusia yang inovatif, berilmu amaliyah dan beramal Ilmiyah.

Sumber :https://www.kompasiana.com/moh.septianpribadi/54f970a1a333112b058b4f1f/idul-adha-dalam-bingkai-pendidikan

Kirim Pesan