NEWS UPDATE :  

Berita

MENGENAL KITAB SAFINATUN-NAJAH DAN SULLAM TAUFIQ

Santri Nurul Jadid pasti kenal dengan kedua kitab ini. karena kitab ini di ajarkan secara bergantian oleh Pimpinan Pondok setiap Hari Rabu dan Kamis, sesudah magrib dan sesudah subuh.

Tetapi, walaupun kitab ini di kenal di kalangan para santri, tapi tidak semua mengetahui sejarah kitab ini. oleh sebab itu, marilah kita simak sejarah Kitab Safinatun Najah dan Kitab Sullamut taufiq berikut :

1. SAFINAH AN-NAJAH

Kitab ini kadang disebut Safinatu An-Naja atau Matan Safinatu AnNaja. Nama lengkapnya Safinatu An-Najah Fima Yajibu Ala Al-Abdi Li Maulah. Seakan-akan dengan judul ini, pengarangnya berharap ilmu yang ditulisnya dalam kitab ini ketika diamalkan bisa menjadi perahu yang menyelamatkan pengamalnya menghadapi dahsyatnya fitnah dunia yang begitu menggoda.

Penulisnya bernama Salim bin Abdullah bin Saad bin Sumair Al Hadhromi atau disebut singkat Salim Al Hadhromi. Beliau seorang qodhi/hakim, tetapi juga berkiprah serta memiliki pengalaman dalam bidang politik dan militer. Beliau lahir di kampung Dzi Ashbah, daerah Hadhromaut dan tumbuh besar di sana.

Ketika sudah mencapai usia belajar, beliau mulai menuntut ilmu kepada ayahnya sendiri, Abdullah bin Saad bin Sumair. Beliau belajar Al Quran dan mencapai derajat tinggi sampai digelari Al Muallim. Gelar ini adalah istilah khusus di Hadhromaut untuk menyebut orang yang mahir dan pakar Al  Quran sehingga berkompeten mengajarkannya.

Beliau sempat ke India dan terakhir ke Jawa, tepatnya di Betawi karena ada persoalan politik di Hadhromaut. Domisili di Jawa inilah yang nampaknya ikut menjadi salah satu faktor yang membuat kitab Safinatu An Naja  menjadi populer di Indonesia, khususnya lembaga-lembaga pendidikan agama Islam di Jawa. Tentu saja faktor mutu kitab tetap menjadi faktor utama yang membuatnya populer di kalangan ulama. Selain kitab Safinatu An Najah, Salim Al-Hadhromi juga memiliki karya lain terkait riba yaitu, Al Fawa id Al Jaliyyah Fi Az-Zajri  An Taathi Al Hiyal Ar Ribawiyyah.

Kitab Safinatu An Najah  adalah kitab fikih bermazhab Asy Syafii. Bentuknya mukhtashor sehingga di dalamnya tidak akan ditemukan hadis hadis atau ayat ayat. Karena itu, kitab ini sangat cocok dan bermanfaat bagi pemula apalagi kitab ini ditulis dengan bahasa yang sangat mudah dan sangat ringkas. Kemudahan bahasa dan keringkasannya ini barangkali juga menjadi faktor yang membuat kitab ini lebih tenar di negeri ini.

2. SULLAMUT TAUFIQ

Nama lengkap kitab ini adalah Sullamu At Taufiq Ila Mahabbatillah Ala At Tahqiq. Arti sullam adalah tangga, lafaz taufiq bermakna pertolongan. Mahabbah  bermakna cinta, sementara ala at-tahqiq bermakna haqqon/yaqinan (secara meyakinkan). Jadi terjemahan bebas dari judul kitab ini adalah Tangga (untuk memperoleh) pertolongan (Allah) menuju cinta Allah secara pasti/meyakinkan. Seakan-akan pengarangnya berharap siapapun yang mengamalkan kandungan kitab ini dengan baik, maka amal salihnya itu akan mengantarkannya pada cinta Allah tanpa keraguan lagi.

Pengarangnya bernama Abdullah Baalawi atau lebih singkat lagi Baalawi. Nama Baalawi adalah klan yang terkenal di Hadhromaut sebagai keturunan nabi Muhammad SAW. Biasanya mereka disebut dengan gelar Habib atau Sayyid. Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Husain bin Thohir Baalawi At Tarimi Al Hadhromi. Beliau lahir pada tahun 1191 H di Tarim, provinsi Hadhromaut di Yaman. Menurut Sibthu Al-Jilani penulisan kitab Sullam At-Taufiq rampung pada awal Rajab tahun 1241 H.

Baalawi menulis kitab Sullam At-Taufiq dalam bentuk  mukhtashor. Isinya mencakup pembahasan akidah ringkas dan hukum-hukum secara singkat. Kitab ini cocok untuk orang yang ingin belajar agama tapi punya banyak kesibukan.

Disamping pembahasan akidah dan hukum, Baalawi juga menuliskan topik tentang tazkiyatun nufus (pembersihan jiwa). 

Bab-bab dalam kitab Sullam At Taufiq  adalah ushuluddin, thoharoh, salat, zakat, puasa, haji, muamalat, tazkiyatun nafsi, dan bayanul ma ashi. Jadi, sebagaimana kitab Safinatu An Najah, kitab Sullam At Taufiq  bukanlah kitab fikih murni tetapi kitab yang mengandung pembahasan akidah, hukum dan pembersihan jiwa. Kendati demikian, isinya hanya dibatasi ilmu-ilmu yang dihukumi fardhu ain yang wajib dipelajari setiap mukallaf. Bisa dikatakan, kitab ini adalah  kitab mentoring untuk kaum muslimin awam. Ilmu yang dikandung kitab ini diperkirakan sudah cukup membentuk pribadi muslim salih yang sanggup menjalankan kewajiban-kewajiban utama dalam dien.

Sumber : https://irtaqi.net/

Kirim Pesan